Kadinkes Teluk Bintuni Akan Jadi Narasumber FKP Yang Diprakarsai Kementerian PANRB di Jayapura

 

Bintuni,sorotpapua.net – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, Frangky D. Mobilala direncanakan memenuhi undangan sebagai narasumber pada kegiatan pendampingan pelaksanaan forum konsultasi publik yang diprakarsai Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI di Jayapura,Selasa(16/6/2024)

Franky Mobilala diminta untuk memberikan materi, saran dan masukan seputar inovasi pelayanan publik khusus di bidang kesehatan.
Dalam surat Kemenpan-RB No. B/87/PP.01/2024 tanggal 9 Juli 2024,

Selain Kadinkes Teluk Bintuni, sejumlah pihak kompeten juga diundang sebagai narasumber.
Mereka diantaranya: Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Papua, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Jayapura, Dekan FISIP Uncen Jayapura dan Direktur Nasional Wahana Visi Indonesia.

Perlu diketahui, usaha Pemkab Teluk Bintuni untuk menyelesaikan masalah wabah malaria dengan program Early Diagnosis And Treatment (EDAT) menuai hasil yang baik.
Pada tahun 2018, Kabupaten Teluk Bintuni berhasil menjadi pemenang United Nations Public Service Awards (UNPSA).
Diagnosis dan pengobatan yang akurat melalui inovasi terbaru dalam mengeliminasi malaria menjadikan satu-satunya wakil Indonesia sebagai pemenang dari kawasan Asia Pasifik untuk kategori 1, yaitu menjangkau yang paling miskin dan rentan melalui layanan inklusif dan kemitraan.

EDAT merupakan kolaborasi antara pemda, organisasi non Pemerintah, dan sektor swasta. Program yang dilaksanakan melalui pembentukan Juru Malaria Kampung (JMK) atau spesialis malaria yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pendidikan masyarakat tentang identifikasi, pencegahan, dan pengobatan malaria.
Melalui sistem ini pula, aparat terkait melatih penduduk desa sebagai petugas kesehatan, mengemas obat-obatan malaria agar lebih mudah digunakan, dan memastikan kualitas asuransi yang terintegrasi.

Keberhasilan EDAT sebagai satu-satunya inovasi dari Indonesia yang meraih penghargaan dari UNPSA tahun 2018.
Bumi Cendrawasih menempati urutan teratas sebagai penyumbang kasus malaria terbanyak di Indonesia. Pada tahun 2009, penderita malaria mencapai angka 115 per 1000 penduduk. Setelah diimplementasikan sejak 2010, sistem EDAT berhasil mereduksi wabah malaria. Tahun 2015, kasus malaria ini turun menjadi 2,4 per 1000 penduduk.

Pada 2017, program ini berhasil mereduksi penyebaran malaria dari angka 9,2 persen ke angka 0,02 persen di 12 desa. Selain mengurangi penyebaran, program ini juga sukses mengurangi tingkat morbiditas malaria dari 115 penderita per 1000 penduduk (2009) menjadi 5 penderita malaria dari 1000 penduduk (2016).

Selain Indonesia, ada layanan publik dari tujuh negara lain yang menjadi juara UNPSA. Pada kategori yang sama dengan Indonesia, Austria menjadi juara di wilayah Eropa Barat dengan program pelatihan bagi para migran dan pengungsi. Austria memiliki program yang dinamakan Talents for Austria yang bertugas untuk memberi pendidikan dasar, pendidikan asrama, hingga pelatihan kerja.
Korea Selatan, Spanyol dan Kolumbia menjadi juara UNPSA untuk kategori Membentuk Institusi Inklusif dan Memastikan Partisipasi dalam Pengambilan Keputusan.

Sedangkan untuk kategori Promosi layanan Publik yang Responsif terhadap Semua Gender untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan diraih oleh Kenya sebagai wakil dari benua Afrika, Thailand di wilayah Asia Pasifik, dan Swiss di wilayah Eropa Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *